Sejarah Pasigitan

Sejarah Desa Pasigitan

Konon, sejarah dan legenda Desa Pasigitan dimulai pada akhir pemerintahan Kerajaan Majapahit dan awal berdirinya Kasultanan Demak Bintoro, dikisahkan menurut penuturan sesepuh dari generasi ke generasi, alkisah nama Desa Pasigitan berawal dari kisah pengembaraan salah satu kerabat keraton Majapahit yang berpihak ke Demak Bintoro bernama Ki Ageng Sigit yang sesuai perintah, petunjuk dan keyakinannya agar pergi kearah barat menyebarkan agama Islam, singkat cerita sampailah pada sebuah daerah yang dirasa cocok sesuai suasana hati dan diputuskan untuk bermukim ditempat tersebut, seiring perkembangannya yang semakin menarik banyak warga untuk pergi ke daerah tersebut, yang pada umumnya bertujuan untuk mencari penghidupan baru dan berguru kepada Ki Ageng Sigit, pada akhirnya masyarakat menyebut daerah tersebut dengan Desa PASIGITAN sesuai nama pendiri cikal bakal daerah tersebut yaitu Ki Ageng Sigit yang berarti tampan, simpatik dan berkharisma serta mengayomi masyarakat.

Dalam riwayat ki Ageng Sigit jatuh cinta kepada Nyai Sumirah, namun cintanya bertepuk sebelah tanggan dalam arti Nyai Sumirah menerima cinta Ki Ageng Sigit dengan persyaratan, yaitu :

Ø  Demi keamanan desa dari gangguan dari luar Nyai Sumirah minta dibuatkan pagar dari bukit.

Ø  Untuk mengairi sawah yang pada saat itu sulit, Nyai Sumirah minta dibuatkan saluran air untuk sawah demi kesejahteraan rakyat.

Permintaan tersebut harus terwujud dalam satu malam dan ki Ageng Sigit manyanggupinya. Berkat kesaktian Ki Ageng Sigit maka terwujutlah apa yang disyaratkan oleh Nyai Sumirah dalam waktu yang telah ditentukan. Sebagai pagar disebelah barat dibuatkan bukit munding, sebelah utara dibuatkan bukit sari, sebelah timur dibuatkan bukit suring, sebelah selatan dibuatkan bukit gentong. Kini nama dari bukit itu menjadi nama dari dusun yang ada di Desa Pasigitan yaitu dusun Gunung Munding  sebelah barat, Gunung Sari sebelah utara, dusun Suringgono sebelah timur.